Wasiat Nabi Muhamad SAW, Jadilah yang paling kuat di dunia

Wasiat Nabi Muhamad SAW, Jadilah yang paling kuat di dunia

600120_313835172051758_897154684_n

Ikhwatifillah, betapa keagungan Islam ini telah mensyaratkan pada para pemeluknya untuk memantaskan dirinya berdiri di atas pijakan agama yang agung. Islam yang turun sebagai rahmat bagi seluruh alam sudah barang tentu kejayaanya di sisi Allah swt. Hanya saja ketika pertanyaanya diubah siapakah yang akan membawa kejayaan itu, maka jawabanya akan bisa dilihat dari bagaimana keadaan pengemban amanah dakwahnya. Islam akan berjaya bersama dengan orang-orang yang pantas dikatakan memiliki jiwa kejayaan. Barangkali kita melihat sekarang, khususnya di Indonesia bagaimana tidak nampak sebagai negara yang mempunyai penganut agama islam terbesar di dunia ini masih jauh dari kasejahteraan, itulah kenyataan umat sekarang yang tidak lagi mengamalkan islam ini secara menyeluruh. Hilang sudah kebesaran dan kekuatan dalam diri seorang muslim tanpa kebanggaan pada apa yang harusnya ia yakini.

Mau tidak mau kita harus menyadari bahwa inilah yang dahulu dikhawatirkan oleh rasululah SAW.

Dari Tsauban bin Bajdad, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih aliran sungai. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (H.R. Abu Daud dan Ahmad)

Sungguh, inilah jaman dimana ketakutan kaum muslim itu datang. Takut pada apa yang nantinya mereka tuju, dan berlomba mendapatkan apa-apa yang akan mereka tinggalkan. Cukuplah ini menggambarkan betapa lemahnya kekuatan umat Islam sekarang ini, ketika negara dengan mayoritas penduduk muslim diobok-obok dengan diskotik dan bar berlabel cave, pornografi berlabel seni, judi, riba, korup, bukan tertegun dalam kekhawatiran justru masyarakat ini sibuk terbahak-bahak dengan maraknya komedian.

Sebuah pesan dari Rasululah saw yang senantiasa beliau wasiatkan kepada para sahabat dan kaum muslim, ditengah-tengah beliau membangun kekuatan umat, dibalik beliau mempersiapkan kedigdayaan khilafah Islam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

: Artinya

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

Takdir kejayaan itu ada di tangan kaum muslim, sebagaimana Allah gariskan Islam ini sebagai diinil haq liyudhirohu ‘ala diini kullih, maka benar-benar akan dimenangkan agama ini dengan khoiru umat. Sebagaimana kemenangan-keenangan Islam di jaman keemasan, bukanlah jumlah mereka yang besar mampu mengalahkan lawan-lawanya, justru kemenangan-kemenangan besar banyak diraih dengan jumlah pasukan yang terlebih amat sedikit dibandingkan pasukan musuh. Tapi kekuatan mereka luar biasa. Secara fisik kuat, dan juga kekuatan terbesar maiyatullah, kebersamaan dengan Allah karena mereka dicintai Allah. Sehingga kemenangan demi kemanangan, nasrullah diberikan atas mereka. Alaa inna nasrullahi qorib, u.idat lil muttaqin.

Itulah yang dilakukan orang-orang besar, memancing datangnya kecintaan Allah. Sebagaimana dalam hadits di atas, Allah lebih mencintai mukmin yang kuat, maka jadilah kita kuat. Maka ketika sekarang kita mentarbiyah jasadiyah kita denga serangkaian aktifitas riyadiyah dan mukhayam bukan semata agar tubuh kita bugar, agar nampak gagah, lebih dari itu, ini adalah persiapan kita menuju tujuan mulia sebagai umat terbaik yang akan membawa kejayaan Islam kembali. Kewibawaan umat ini akan semakin terlihat dengan kekuatan fisiknya. Lihatlah Umar bin Khatab, Khalid bin Walid, Hamzah bin Abdul Muthalib, mereka menjadi simbol-simbol kekuatan Islam dengan kewibawaan seorang panglima. Rasulullah saw adalah orang yang memiiki fisik yang paling sempurnya, kuat dan berwibawa.

Kekuatan dalam sisi lain adalah kekuatanmaknawiyah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam sebuah hadits qudsi ini menjelaskan, bahwa di antara sebab yang mendatangkan kecintaan Allah adalah mengerjakan amal-amal sunnah sesudah yang wajib secara kontinyu. Dan jika Allah sudah mencintai hamba, maka Allah akan memberi petunjuk pada anggota tubuhnya. Sehingga ia akan berkata dan berbuat sesuai keridhaan-Nya.

Maksud Allah menjadi pendengarannya: Allah akan memberi petunjuk kepadanya pada pendengarannya sehingga ia tidak mendengar kecuali yang mendatangkan keridhaan-Nya.

Maksud Allah menjadi penglihatannya: Allah akan memberi petunjuk kepadanya pada penglihatannya sehingga ia tidak akan melihat kecuali apa yang dicintai Allah.

Sementara maksud Allah menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat: Allah memberi petunjuka pada tangannya sehingga ia tidak berbuat dengan tangan-Nya kecuali apa yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla .

Sedangkan maksud Allah menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah: Allah memberi petunjuk pada kakinya sehingga ia tak melangkah/berjalan dengan kakinya kecuali untuk sesuatu yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Buah manis lain yang akan hamba tersebut dapatkan adalah doanya akan didengar dan dikabulkan. Ia berada pada perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla  dari segala yang mengancam dirinya.

Kalau sudah bersama dengan Allah, apa sih yang kita takutkan?

Apa yang rasulullah sampaikan dalam hadits qudsi di atas adalah sebuah kepastian. Rahmat Allah yang diberikan atas orang-orang mukmin, Inna rahmatallahi qoribun minal muhsinin. Fasilitas Allah yang demikian eksklusif ini Allh berikan bagi mereka yang mendekatkan diri mereka dengan kewajiban-kewajiban kemudian menambahkan dengan amalan-amalan sunah sampai Allah akhirnya memberikan fasilitas sebagai bukti kecintaan-Nya. Maka yang perlu kita cek kembali kepantasan kita, adakah profil seorang mukmin sebagaimana yang dimaksudkan.

Dalam Q.S Al Anfal  ayat 2-4

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”(QS.Al Anfal 2-4)

Setelah menerangkan tentang perintah taqwa, perintah memperbaiki hubungan antar sesama, dan perintah taat, Allah menerangkan beberapa kriteria orang yang benar-benar beriman itu dengan firmanNya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Berkata Ibnu Abbas: “sesungguhnya orang munafik itu tidak sedikitpun dapat masuk zikrullah ke dalam hatinya, ketika melaksanakan ibadah tidak pula hatinya mengimani sesuatupun dari ayat Allah, serta tidak bertawakkal. Tidak melaksnakan sholat apabila tidak terlihat dan tidak pula menunaikan zakatnya, maka Allah ta’ala menerangkan bahwa sebenarnya mereka tidaklah beriman”. Sementara sifat orang beriman yang diterangkan Allah dalam ayat ini; pertama; hati mereka tunduk hingga jika disebut nama Allah tergetarlah hati mereka. Kedua: iman mereka semakin bertambah setiap dibacakan ayat ayat allah, dan ketiga: senantiasa bertawakkal hanya kepada Allah tidak kepada selainnya.

Yang tiga itu adalah pekerjaan hati yang hanya Allah sajalah yang tahu, kemudian Allah menambah dua kriteria lagi yang dapat nampak di mata manusia, yaitu; senantiasa menegakkan sholatnya, serta menafkahkan setiap rizki yang Allah berikan padanya. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (mukmin haqqon). mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (ayat 4).

Tentang mukmin haqqan ini ada suatu riwayat dari Harits bin Malik Al-Anshari bahwa suatu hari dia berlalu di hadapan Rasulullah , maka beliau , menyapanya: “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Harits?” dia menjawab: “Saya merasa telah beriman yang sebenar-benarnya (mukmin haqqan), beliau bersabda: “Sudahkah kau perhatikan apa yang kau katakan itu? Sesungguhnya setiap sesuatu ada tanda-tandanya, apa tanda keimananmu itu?” Al-Harits berkata: “Aku menghindarkan diriku dari dunia, maka aku menghidupkan malamku dan mem-puasa-kan siangku, seolah-olah aku melihat penduduk surga saling berkunjung di antara mereka dan aku melihat penduduk neraka saling menjerit di antara mereka” Maka Rasul bersabda: “Yaa Haarits, engkau telah mengerti, maka tetaplah pada keadaanmu (tiga kali)”

Bagi orang mukmin haqqan ini Allah menjanjikan tiga hal, yaitu: derajat yang tinggi di sisi Rabb mereka yaitu di surga-surga yang penuh keindahan, ampunan dari dosa dan kesalahan yang pernah mereka lakukan dan juga rizki yang mulia.

Semoga Allah menjadikan hati kita mudah tergetar dengan ayat-ayat Allah, menjadikan iman kita bertambah setiap mendengar ayat Allah, dan jiwa raga kita sepenuhnya bertawakkal kepada Allah semata. Semoga Allah ringankan kita dalam melaksanakan sholat dan menunaikan infaq dan zakat sehingga kita dapat menjadi mukmin haqqon, yang oleh Allah ditinggikan derajatnya dihadapan Allah maupun dihadapan manusia, diampuni dosa dosa kita dan diberi rizki yang mulia, di dunia dan di akhirat. Amin.

Kembali pada tema mengambil kembali kekuatan kita, marilah kita mengambil hikmah. Khalid bin Walid adalah seorang yang menghabiskan hampir setiap harinya di medan perang. Beliau menyelesaikan tilawahnya satu juz per harinya. Seringkali beliau bersyair yang isinya memohon maaf pada Al-Qur’an, karena kesibukanya di medan perang hingga harus menghalanginya mempelajari Al-Qur’an lebih jauh. Namun tidak bergeser sedikitpun keimanan Khalid untuk memberikan setiap apa yang beliau miliki untuk Diin ini.

Dahulu para sahabat banyak merenungkan hadits di atas, dan memotivasi mereka hingga 2/3 dunia ditaklukan. Maka pantaslah kita berevaluasi, justru kebiasaan baik, sunah-sunah nabi justru banyak dikonsumsi orang-orang Yahudi dan antek-anteknya, sementara umat islam justru banyak tertipu dengan iming-iming keglamoran dunia yang  mereka tawarkan. Maka banyak aktifitas ibadah yang hanya menyisakan aspek ubudiyahnya saja.

Maka Jadilah yang terkuat di dunia, lakukan apa yang pantas dilakukan, minta pertolongan pada-Nya, jangan pernah bersikap lemah, katakan ini adalah takdir Allah, dan takdir Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya.

Wallahu a’lam

About galeri son dc

Lebih bermanfaat dengan berbagi

Posted on 20 Desember 2012, in tausiyah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. mas anang memang joss :D
    aktif di dunia maya barang sipp :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 754 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: