Hati-hati Suul Khatimah

 timthumb.php

Yang terbayang oleh kebanyakan orang ketika mengingat kematian adalah ketakutan dan kegelisahan, maka yang tidak pernah gelisah memikirkan bagaimana kematianya, bisa jadi dialah yang termasuk dalam sisa-sia kepedihan.

Tulisan ini menjadi tadzkiroh/pengingat terutama untuk diri saya sendiri dan berbagi dengan segenap saudara yang membacanya.

Pada kenyataanya memang tidak banyak orang yang begitu sering memikirkan keadaanya sendiri di akhir kehidupan. Justru banyak orang-orang yang barangkali merasakan keamanan dan kenyamanan hingga berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan untuk kebutuhan keturunanya. Ya, kalau mau berpikir logis, apa yang dipikirkan orang sekaya Carlos Slim Helu tentang hartanya. Tiga kali menempati posisi puncak di daftar ini berturut-turut dari tahun 2010, Kekayaan pebisnis telekomunikasi asal Meksiko ini mencapai US$ 69 miliar.

Bagi orang yang berpikiran terlalu ekstrim kanan, bisa jadi ia akan berpikir tidak ada gunanya menumpuk-numpuk harta jika hanya ditinggal mati. Tapi perlu kita ingat dan tahu, golongan sahabat yang paling mulia, Abu Bakr as Sidq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, mereka adalah orang-orang dengan jumlah kekayaan yang luar biasa. Bagi orang-orang yang berpikir ekstrim ke kiri bisa jadi berbicara, memangnya siapa yang menjamin makan malammu besuk dengan kekayaan yang sekarang, terus saja kumpulkan kekayaan nanti bisa membeli ferrari, rumah mewah, biar keturunan kita juga kaya nanti. Dua pemikiran yang sangat bebeda jauh tapi keduanya keterlaluan. Dan memang, yang terbaik adalah yang pertengahan. Menjadi kaya harta, juga kaya dalam beramal.

Well, tapi bukan itu yang menjadi fokus pembicaraan. Ada satu hal menarik dimana dalam kondisi orang merasa ideal dalam amal-amalnya yang luar biasa, tapi habis berkesudahan tragis. berbicara tentang kasus di atas, betapa banyak hartawan, konglomerat yang juga rajin sekali bersedekah, investasi amalnya luar biasa, hingga diapun merasa sangat yakin sekali begitu dekat dengan surga. Berbicara kekayaan bukan hanya harta benda. Seorang yang dipanggil orang dengan sebutan ustadz, kyai, sesepuh, pada hakekatnya mereka adalah orang yang kaya. Kaya dengan ilmu, di jaman sekarang juga banyak pula yang kaya bayaranya (mohon maaf, bukan mengkritik, Insyaallah kekayaan di tangan ustadz lebih menjajikan keberkahan).

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud radiallahu’anhu, beliau berkata: Kami diberitahu oleh Rasulullah dan beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya – Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya telah disempurnakan penciptaan salah seorang dari kalian dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma, kemudian dia menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan ruh kepadanya, lalu malaikat tersebut diperintahkan untuk menulis empat perkara; untuk menulis rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya (setelah mati) apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya. (HR Bukhari dan Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Bid’ul Khalqi/3208/Fath]. Muslim di dalam [Al Qadar/2463/Abdul Baqi]).

Seusai menjelaskan proses kejadian manusia, Rasulullah SAW menjelaskan perihal takdir manusia. Dijelaskan dalam hadits ini, “Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya.”

Barangkali ada diantara kita yang akan bertanya-tanya, bagaimana bisa, seorang yang digambarkan jaraknya dengan surga hanya tinggal sekian centimeter saja, hanya karena ketentuan Allah kemudian ia berbuat keburukan lalu menghilangkan tabungan amalnya yang luar biasa ia tumpuk-tumpuk sebelumnya. Bagaimana bisa, seorang yang bahkan seumur hidupnya dihabiskan untuk maksiat, hanya karena ketentuan Allah ia dimasukan ke surga. Apakah Allah tidak adil? (hehe, ini pertanyaan paling ekstrem dan bodoh barangkali).

“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi (seseorang) walaupun sebesar zarrah, dan jika ada satu kebajikan, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Q.S An Nisa : 40)

Tidak mungkin Allah menyia-nyiakan amal seorang hamba yang dibangun bertahun-tahun, kecuali memang ada sebab yang mendasar. Sebagaimana sebuah bangunan, tidak mungkin tugu Monas yang di jakarta itu tiba-tiba saja runtuh hanya karena diambil replika api emas yang ada di puncaknya saja. Atau tidak mungkin pula patung liberti akan runtuh hanya karena dihancurkan obornya saja. Kalau rusak iya, tapi tidak sampai hancur kan? Pasti ada sebab yang sangat besar hingga bisa meruntuhkan bangunan yang amat kokoh itu.

Syaikh Ibnu Rajab Al Hambali, Seorang ahli fiqih abad 8 H/14 M, yang banyak menulis kitab yang berkualitas tinggi dan penuh analisa. Beliau menyatakan, jika ada seseorang yang beramal baik secara terus-menerus tapi berkesudahan buruk sebagaimana dalam hadits diatas, ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah bahwa ia masih memelihara hati yang busuk. Atau kemungkinan yang kedua bahwa ia berbuat kemaksiatan dengan terembunyi sehingga orang tidak pernah mengetahuinya. Dalam kemungkinan yang kedua ini seseorang beramal dengan amalan surga dalam hal-hal yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi pada hakekatnya ia memiliki maksud yang busuk dan niatan yang rusak. Lalu niatan yang rusak itu mendominasi dirinya, sehingga ia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (kesudahan yang jelek). Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan sabda beliau:”Hingga jarak antara dia dan surga hanya sejengkal”, yakni kedekatan ajalnya, bukan kedekatannya pada surga dengan amalannya.

Syaikh `Utsaimin rahimahullah , seorang ulama sunah di abad ini menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surga yang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksud dengan `tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta` adalah begitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.”

Sedangkan maksud hadits, “Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka,” artinya, kemudian orang tersebut meninggalkan ( kebiasaan ) amalan ahli surga yang sebelumnya dia amalkan. Hal itu disebabkan adanya sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya yang menjerumuskan orang tersebut ke dalam neraka.

Hal ini perlu diperjelas agar tidak ada prasangka buruk terhadap Allah ta`ala. Karena seorang hamba yang melaksanakan amalan ahli surga dan ia melakukannya dengan jujur dan penuh keikhlasan, maka Allah tidak akan menelantarkannya. Allah pasti memuliakan orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Namun bencana dalam hati bukan merupakan suatu perkara yang mustahil, bisa muncul dalam diri siapa saja yang tidak teguh pendirianya. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini .

Contoh kisah untuk memperjelas hadits ini yang terjadi di zaman nabi shalallahu `alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

Ada seorang sahabat Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam yang bersama beliau dalam suatu peperangan. Sahabat ini tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membunuh lawan melainkan ia pasti melakukannya, sehingga orang-orang merasa takjub melihat keberaniannya dan mereka berkata, “Dialah yang beruntung dalam peperangan ini.” Lalu Nabi shalallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Dia termasuk ahli Neraka.”

Pernyataan Rasulullah ini menjadi perkara besar bagi para sahabat radhiallahu `anhum dan membuat mereka bertanya-tanya keheranan. Maka seseorang diantara mereka berkata, “Aku akan mengikutinya kemanapun dia pergi.”

Kemudian orang yang pemberani ini terkena panah musuh hingga ia berkeluh kesah. Dalam keadaan itu ia mencabut pedangnya, kemudian ujung pedangnya ia letakkan pada dadanya, sedangkan genggaman pedangnya ia letakkan di tanah, lalu ia menyungkurkan dirinya (ke arah depan), hingga pedang tersebut menembus punggungnya (alias ia bunuh diri). Na`udzu billah.

Orang yang mengikutinya tadi datang menghadap Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

“Kenapa engkau katakan itu?” sabda Rasulullah.

Ia berkata, “Sesungguhnya orang yang engkau katakan tentangnya dia termasuk ahli neraka, telah melakukan suatu tindakan (bunuh diri, ed.).” Maka setelah itu Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang itu telah beramal dengan amalan ahli surga pada pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk neraka.” (HR. Bukhari (no.2898) dan Muslim (no.112))

Kisah lain adalah seorang sahabat yang bernama al-Ushairim dari kabilah `Abdul Asyhal dari kalangan Anshar. Dahulu ia dikenal sebagai penghalang sekaligus musuh dakwah Islam. Tatkala para sahabat pergi ke perang Uhud, Allah memberikan ilham kepadanya berupa iman, lalu ia ikut berjihad dan berakhir dengan mati syahid. Setelah perang selesai, orang-orang mencari para korban dan mendapatkan Ushairin dalam keadaan terluka.

Para sahabat bertanya, “Wahai Ushairin, apa yang menndorongmu berbuat seperti ini, apakah untuk membela kaummu ataukah kecintaanmu terhadap Islam?”

Ia menjawab, “Bahkan karena kecintaanku terhadap Islam.”

Sebelum wafatnya, ia meminta untuk disampaikan salamnya kepada Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam.

Maka, meskipun dulunya Ushairin ini buruk dan suka mendzalimi kaum muslimin, namun karena hatinya yang baik, Allah jadikan dia orang yang mati di medan jihad.

Wallahu a’lam, semoga kita termasuk ke dalam hamba-hamba-Nya yang senantiasa meluruskan niat dan ikhlas dalam beramal, semoga Allah mematikan kita dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin

Son dc/06/01/2013

Referensi : abatasa.com,  syababpetarukan.wordpress.com

About galeri son dc

Lebih bermanfaat dengan berbagi

Posted on 6 Januari 2013, in tausiyah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: